Paket Promo Umroh VIP Jauari 2016 di Jakarta Pusat Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Paket Promo Umroh VIP Jauari 2016 di Jakarta Pusat Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA. Paket Promo Umroh VIP Jauari 2016 di Jakarta Pusat

saco-indonesia.com, Si jago merah telah melahap Pondok Pesantren Al Munawarah, Jalan Imam Munandar, kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau. 6 Bangunan yang telah dijadikan asrama untuk para santri ludes diamuk kobaran api, Senin (30/12), sekitar pukul 14.30 Wib.

Informasi yang telah berhasil dirangkum di lapangan telah menyebutkan, kebakaran tersebut bermula ketika para santri sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tiba-tiba ada kepulan asap hitam dari bangunan asrama. Tak lama beselang, api telah menyambar ke bangunan lain.

"Tak tahu api darimana bang, tiba-tiba saja sudah terbakar," ujar seorang santri histeris.

Beberapa mobil pemadan kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran Pekanbaru yang datang saat ini melakukan upaya pemadaman.

Kapolsek Tenaya Raya, Kompol Kukuh Yulianto mengatakan, pihaknya belum dapat mengetahui secara persis apa penyebab dari kebakaran tersebut.

"Kita juga baru mendapat laporan adanya kebakaran ini. Nanti akan kita lakukan penyelidikan lebih lanjut, belum tahu ada korban atau tidak," kata Kukuh.


Seorang santri tewas

Noval, seorang santri tewas dalam kondisi terpanggang saat si jago merah yang telah melahap 6 bangunan yang telah dijadikan asrama untuk para santri.

Kebakaran tersebut bermula ketika para santri sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tiba-tiba kepulan asap hitam dari bangunan asrama. Tak lama beselang, api telah menyambar ke bangunan lain.

Kapolsek Tenaya Raya, Kompol Kukuh Yulianto juga mengatakan, pihaknya belum dapat mengetahui secara persis apa penyebab dari kebakaran tersebut.

"Seorang santri berjenis kelamin pria meninggal dunia dalam kondisi hangus, nanti kita kabari lagi ya," kata Kukuh.


Editor : Dian Sukmawati

PONDOK PESANTREN DI PEKANBARU TERBAKAR
Photo
 
Many bodies prepared for cremation last week in Kathmandu were of young men from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas. Credit Daniel Berehulak for The New York Times

KATHMANDU, Nepal — When the dense pillar of smoke from cremations by the Bagmati River was thinning late last week, the bodies were all coming from Gongabu, a common stopover for Nepali migrant workers headed overseas, and they were all of young men.

Hindu custom dictates that funeral pyres should be lighted by the oldest son of the deceased, but these men were too young to have sons, so they were burned by their brothers or fathers. Sukla Lal, a maize farmer, made a 14-hour journey by bus to retrieve the body of his 19-year-old son, who had been on his way to the Persian Gulf to work as a laborer.

“He wanted to live in the countryside, but he was compelled to leave by poverty,” Mr. Lal said, gazing ahead steadily as his son’s remains smoldered. “He told me, ‘You can live on your land, and I will come up with money, and we will have a happy family.’ ”

Weeks will pass before the authorities can give a complete accounting of who died in the April 25 earthquake, but it is already clear that Nepal cannot afford the losses. The countryside was largely stripped of its healthy young men even before the quake, as they migrated in great waves — 1,500 a day by some estimates — to work as laborers in India, Malaysia or one of the gulf nations, leaving many small communities populated only by elderly parents, women and children. Economists say that at some times of the year, one-quarter of Nepal’s population is working outside the country.

Nepal’s Young Men, Lost to Migration, Then a Quake

Artikel lainnya »